Kriteria Bangunan Hijau Menurut GREENSHIP

GREENSHIP dari Green Building Council Indonesia menyediakan alat rating dan sertifikasi untuk bangunan ramah lingkungan. Ini adalah langkah penting untuk membantu terciptanya bangunan hijau di Indonesia.

Gerakan bangunan hijau bertujuan untuk merancang bangunan berkesinambungan dalam jangka panjang. Sepanjang masa hidup bangunan yang tidak berkesinambungan akan lebih memberatkan dibandingkan menguntungkan dalam tiga aspek utama yaitu lingkungan, sosial dan ekonomi.

Bangunan hidup dalam sebuah siklus yaitu desain, konstruksi, operasi, pemeliharaan, renovasi dan perobohan. Menggunakan proses yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan memakai sumber daya dengan efisien di seluruh siklus hidup bangunan secara umum adalah penting dalam bangunan hijau. GREENSHIP mendefinisikan lebih lanjut kriteria bangunan hijau dalam 5 kategori.

Tepat Guna Lahan

Tepat Guna Lahan adalah kategori kriteria-kriteria pertama yang menekankan pentingnya menjaga kawasan hijau kota untuk manfaat lingkungan. Oleh karena itu kategori ini mendorong pelestarian kawasan hijau dan pembangunan pada daerah non-hijau yang sudah ada. Memilih situs yang terhubung dengan jaringan transportasi, khususnya sistem transportasi umum dengan kemungkinan penggunaan sepeda masuk menjadi kriteria, karena akan mengakibatkan penggunaan energi yang lebih sedikit untuk transportasi dan dampak ekologis yang lebih ringan. Lansekap situs bangunan adalah penting untuk memaksimalkan manfaat lingkungan yang didapat dari lahan hijau. Kenyamanan manusia melalui kualitas iklim mikro di sekitar bangunan dan situs juga dianggap sebagai target tepat guna lahan. Kriteria lainnya adalah pada kualitas air limpasan hujan untuk mengurangi beban sistem drainase lingkungan.

Efisiensi dan Konservasi Energi

Efisiensi dan Konservasi Energi mendefinisikan kriteria-kriteria untuk penghematan energi demi manfaat lingkungan dan manfaat ekonomis. Pemasangan Sub-Meter listrik dipandang sebagai dasar untuk manajemen energi lebih lanjut. Laju transfer termal keseluruhan antara lingkungan dan bangunan adalah kriteria yang menentukan penggunaan energi untuk kenyamanan termal di dalam gedung. Langkah-langkah lain untuk membuat penggunaan energi lebih efisien memberikan poin plus. Hal ini dapat berasal dari penggunaan energi yang efisien untuk pencahayaan buatan, sistem transportasi vertikal dan AC. Penghematan Energi untuk ini dapat dilakukan lebih lanjut dengan penggunan pencahayaan alami yang optimal dan ventilasi alami di tempat umum. Adanya pengurangan emisi CO2 akan memberikan poin tambahan. Poin juga diberikan jika ada energi terbarukan yang dihasilkan di lokasi bangunan.

Konservasi Air

Kategori Konservasi Air menggunakan meteran air untuk mengukur pemakaian air dalam operasi bangunan sebagai dasar untuk manajemen air yang lebih baik. Pengurangan penggunaan air dengan menerapkan tindakan penghematan dianggap sebagai kriteria. Untuk mencapai tujuan ini, tindakan-tindakan ini diperlukan seperti menggunakan perlengkapan hemat air, daur ulang air dari misalnya air bekas pakai dan air hujan. Poin tersedia jika air berasal dari sumber lain selain dari air tanah atau PAM digunakan untuk mengairi lansekap.

Sumber dan Siklus Material

Dalam kelompok kriteria Sumber dan Siklus Material, penggunaan material yang memiliki dampak tinggi terhadap penipisan ozon adalah tidak disarankan. Penggunaan bahan limbah, material yang ramah lingkungan, kayu bersertifikat, bahan pra-fabrikasi adalah dianjurkan. Bahan dengan komponen dari Indonesia dan bahan dari daerah di dalam radius 1000 km dari lokasi konstruksi memenuhi syarat untuk tambahan poin.

Kesehatan dan Kenyamanan

Kesehatan dan Kenyamanan Dalam Ruang mendefinisikan Bangunan Hijau, karena menekankan pentingnya penghuni bangunan. Untuk mempertahankan kualitas tertentu udara dalam ruangan adalah dianjurkan untuk memiliki pertukaran secara cukup dengan udara luar. Kualitas udara dalam ruangan terjaga dengan memonitor konsentrasi CO2, pengendalian asap rokok dan pengurangan polusi kimia. Tingginya tingkat kenyamanan penghuni akan tercapai dengan adanya kriteria seperti pemandangan keluar gedung, kenyamanan visual, kenyamanan termal dan kelembaban, serta tingkat kebisingan yang nyaman.

Pengelolaan Lingkungan Bangunan

Kategori terakhir diberikan untuk Pengelolaan Lingkungan Bangunan. Pemisahan sampah sederhana di gedung yang akan menyederhanakan proses daur ulang mendapat tambahan poin. Dua kriteria mendorong adanya pengurangan limbah konstruksi dan pengelolaan sampah terpadu mencakup bagaimana sampah harus dikelola. Kehadiran seorang GREENSHIP Professional selama proses desain akan memberikan kontribusi untuk rating positif. Operasi aktual dari perencanaan awal harus disertai system komisioning yang baik dan benar. Penyampaian data bangunan hijau, penerapan prinsip-prinsip bangunan hijau selama aktivitas fit-out dan melakukan survei pengguna gedung akan memberikan poin lebih untuk kategori ini.

Sumber: Green Building Council Indonesia. Greenship untuk Bangunan Baru Versi 1.2 Building Basic Information: Ringkasan Kriteria dan Tolok Ukur, April 2013, http://www.gbcindonesia.org

Diperbarui: 2013-05-21 Dilihat: 4348

Comment